Saturday, October 3, 2009

PMKRI & GMPI Tolak Gas Alam di Mutubusa

Tolak Gas Alam di Mutubusa

ENDE, Timex-Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Don Bosco Cabang Ende bersama Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesa (GMPI) yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber), Sabtu (26/9) menggelar aksi menolak tambang di NTT khususnya di Mutubusa, Ende khususnya.
Aksi mereka dimulai dari Marga PMKRI di Jalan Wirajaya Ende, menuju Lampu Lima, Kantor Bupati Ende untuk melakukan orasi. Aksi elemen mahasiswa ini berakhir di Gedung DPRD Ende untuk melakukan dialog dengan anggota DPRD Ende. Di hadapan anggota dewan, dua elemen mahasiswa ini menyampaiakn pernyataan sikap menolak tambang di Mutubusa, Kecamatan Ndona Timur.

Dalam orasinya, Sekber ini menolak dengan tegas segala aktifitas pertambangan yang ada di Kabupaten Ende teristimewa eksplorasi Gas Alam di Mutubusa. Menurut mereka, tidak ada dampak positip dalam eksplorasi dan eksploitasi pertambangan di wilayah tersebut. Malah, yang ada hanyalah kerusakan ekosistem dan ekologi yang akan merugikan masyarakat. Karena itu para mahasiswa ini meminta pemerintah untuk tidak mudah memberi izin kepada investor untuk melakukan eksplorasi Gas Alam di Mutubusa.

"Seharusnya pemerintah sudah membaca buku besar tentang dampak eksplorasi tambang seperti di Sidoarjo, Papua dan di Mataloko. Di beberapa tempat itu eksplorasi secara besar-besaran telah membawa dampak lingkungan yang sangat besar dan merugikan manusia dan makluk hidup lainnya," kata Levi Padalulu, seorang orator.

Jika pemerintah tetap memberikan izin, kata Levi, maka ancaman kerusakan lingkungan benar-benar akan terjadi. Mereka menyayangkan kebijakan Bupati Ende, Don Bosco Wangge yang secara diam-diam mengadakan penandatanganan MoU dengan Grup Bakrie untuk mengeksploitasi tambang Gas Mutubusa.

Di hadapan anggota dewan, PMKRI dan GMPI menyatakan sikap penolakan terhadap pertambangan di Ende, khususnya di Mutubusa. "Kami menyatakan menolak semua jenis pertambangan yang akan dilaksanakan di Kabupaten Ende, terutama di Mutubusa yang sudah dilakukan penandatangan MoU. Kami harapkan lembaga dewan memiliki sikap yang sama untuk membela kepentingan masyarakat yang terancam oleh aktifitas tambang tersebut," kata Levi.

Ketua DPRD Sementara Ende DPRD Ende Marcel Petu yang memimpin anggota dewan menerima aksi mahasiswa tersebut mengatakan menerima aspirasi yang disampaikan tersebut. Namun, ia meminta waktu untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Namun, ia meminta elemen mahasiswa tersebut untuk memberi waktu selama beberapa hari karena lembaga dewan membutuhkan kajian dari instansi terkait mengenai rencana tambang tersebut.

"Memang kalau eksplorasi tentu ada sisi postif dan ada negatifnya. Kalau negatifnya lebih banyak mari kita tolak. Jika Positif mari kita dukung. Tetapi negatif dan positif bukan berdasarkan teori tetapi tentunya berdasarkan analisis dampak lingkungan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pertambangan," kata Petu. Karena itu, ia mengharapkan elemen mahasiswa tersebut dan masyarakat Ende umumnya untuk menanti hasil kajian yang dilakukan di lokasi pertambangan Mutubusa.

Anggota dewan, Heribertus Gani juga menyatakan hal yang sama. "Kita tidak bisa menggeneralisir setiap bentuk tambang adalah merusak ekosistem alam. Karena itu perlu analisis dan pertimbangan dengan tidak megurangi tata aturan normatif," ujarnya.

Di hadapan wakil rakyat, Sekber dari PKKRI dan GMPI ini menyayangkan penandatanganan MoU antara Pemerintah Kabupaten Ende dalam hal ini Bupati Don Bosco M Wangge dengan Grup Bakrie dengan uang jaminan Rp100 miliar. Padahal, MoU tersebut tanpa sepengetahuan DPRD Ende. Karena ini mereka meminta DPRD Ende merekomendasi untuk segera membatalkan MoU tersebut.

PMKRI dan GMPI Ende juga meminta DPRD Ende mengeluarkan rekomendasi yang isinya bahwa warga Kabupaten Ende menolak tambang baik di Flores dan Lembata umumnya dan Kabupaten Ende pada khususnya. Mereka juga berjanji akan datang dengan jumlah yang lebih banyak jika lembaga dewan tidak menyingkapi tuntuan tersebut. (kr7

(sumber: Timor Express, Senin, 28 Sep 2009)

Tuesday, April 28, 2009

melongok pesta pemilu legislatif 2009 di sokoria


PEMILU Legislatif 2009 masih menyisahkan debar-debar penantian akan pengumuman hasil akhir oleh KPU dan KPUD. Rencananya KPU /KPUD akan mengumumkannya secara resmi pada 9 Mei 2009 mendatang. Meskipun demikian setiap hari bahkan setiap waktu masyarakat Indonesia bisa mengikuti perkembangan perhitungannya melalui berbagai media penyiaran dan kita bisa memprediksikan PARPOL mana yang akan keluar sebagai pemenang. Bahkan teknologi jaringan (internet) telah memungkinkan kita bisa lebih awal mengetahui siapa saja caleg yang akan melenggang ke kursi DPR, DPR Propinsi dan DPRD. Berdebar-debar, apakah jagoan kita bisa sampai ke sana?

Sokoria pun ikut menggeliat merasakan terpaan gelora pesta lima tahunan ini. Mayarakat antusias menyambut PEMILU legislatif 2009. Selain memilih ada juga yang dipilih. Tidak tanggung-tanggung tercatat 4 (empat) orang putra asli Sokoria ikut menjadi calon legislatif (DPRD) Kabupaten Ende untuk Daerah Pemilihan II yang meliputi wilayah Kecamatan Ndona, Ndona Timur, Ende, Nangapanda dan Pulau Ende; Bp. Sirilus Renggu dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (7), Bp. Matheus Dasi dari Partai Pemuda Indonesia (14), Ibu Theresia Sena dari Partai Pemuda Indonesia (14), dan Ibu Maria Brigita Gale dari Partai Benteng Kerakyatan Indonesia (26). Sebagaimana lazimnya sebuah perhelatan pilih memilih, tentu kehadiran saudara dan saudari kita ini menambah hangatnya suhu demokrasi di Sokoria. Pasti ada lobi-lobi dari team sukses yang mungkin ada maupun pembicaraan atau diskusi-diskusi kecil yang tercipta tak sengaja di depan Gereja sehabis ibadah, atau pun bisik-bisik di pancuran umum pada pagi atau sore hari. Warna keseharian Sokoria menjadi lebih semarak karena otomatis akan terbentuk kelompok-kelompok pendukung keempat saudara/saudari kita ini. Sangat baik jika seluruh "ana kalo fai walu" masyarakat Sokoria yang masuk dalam DPT bisa memberikan apresiasi kepada mereka berempat khususnya dan terhadap pesta demokrasi 2009 umumnya.

PEMILU Legislatif 2009 telah selesai dilaksanakan bertepatan dengan perayaan Gereja Khatolik, Hari Kamis Putih. Apapun hasilnya nanti, bukan itu yang terpenting. PEMILU legislatif kali ini memberikan kita pembelajaran berharga.
Suatu langkah yang baik jika orang Sokoria mau dan berani berkiprah dalam dunia perpolitikan. Diharapkan agar masa mendatang tetap ada orang Sokoria terutama generasi muda yang mau terlibat aktif dalam politik. Bagi yang berminat disarankan agar membekali diri lebih awal dengan terlibat aktif dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan/politik.
Dalam kehiduban berdemokrasi perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, perbedaan pilihan adalah hal yang lumrah agar bisa mendapatkan keputusan atau hasil pilihan yang tepat untuk kepentingan bersama. Oleh karena itu hendaknya perbedaan tidak membuat masyarakat Sokoria terpisah dalam kotak-kotak sempit. Berbeda pendapat, berbeda pilihan tetapi "ana kalo fai walu" Sokoria tetap satu keluarga besar, satu semangat, satu cita-cita membangun Sokoria menuju masa depan yang lebih baik. Sokoria yang tentram damai, penuh persaudaraan. "Kita sa mamo kita sa embu, boka ngere ki bere ngere ae".

Saturday, March 7, 2009

Bakrie Power Menang Lelang WKP Sokoria

Jakarta - Bakrie Power ditetapkan menjadi pemenang wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi Sokoria, di Nusa Tenggara Timur. Penetapan Bakrie Power sebagai pemenang di wilayah kerja ini sudah dilakukan pada awal Januari 2009.

Demikian disampaikan Direktur Pembinaan Pengusahaan Panas Bumi dan Pengelolaan Air Tanah Ditjen Minerbapabum Departemen ESDM di Departemen ESDM, Jakarta, Selasa (3/2/2009).

"Mereka tinggal menunggu izin usaha pertambangan dari Pemerintah Daerah setempat untuk dapat melakukan tahap konstruksi selanjutnya," katanya.

Potensi kapasitas listrik yang bisa dihasilkan dari WKP Sororia diperkirakan mencapai 30 MW.
WKP selanjutnya yang akan ditender adalah WKP Ungaran di Jateng yang berkapasitas 50 MW dan Telaga Ngebel di Jatim berkapasitas 120 MW.

"Daerah bersangkutan telah menyediakan anggaran pelaksanaan tendernya tahun ini," kata Sugiharto.

WKP Sororia merupakan satu dari 9 WKP yang ditender melalui pemerintah daerah. Total kapasitas dari 9 WKP tersebut mencapai 680 MW.

Kesembilan lokasi tersebut adalah Seulawah-Agam (Aceh) 160 MW, Jaboi (Aceh) 50 MW, Jailolo (Maluku Utara) 75 MW, Telaga Ngebel (Jatim) 120 MW, Ungaran (Jateng) 50 MW, Tampomas (Jabar) 50 MW, Cisolok-Sukarame (Jabar) 45 MW, Tangkuban Perahu (Jabar) 100 MW, dan Sokoria (NTT) 30 MW.

Empat WKP lainnya yang sudah ditenderkan adalah Tangkuban Perahu, Cisolok-Sukarame, Tampomas, dan Jailolo. Sementara WKP lainnya masih menunggu peraturan daerah yang mengatur pengelolaan WKP di wilayah setempat.(lih/qom)

Sumber: DetikFinance

Bupati Ende tunjuk pemenang lelang WKP Sokoria


Rabu, 21 Januari 2009 | 21:18 WIB

ENDE, RABU — Bupati Ende Paulinus Domi telah menunjuk pemenang lelang Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi Sokoria di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (21/1). Pemenang lelang adalah konsorsium PT Bakrie Power dan PT Energy Management Indonesia.

"Pemenang lelang sudah ditetapkan, yaitu PT Bakrie Power dan PT Energy Management Indonesia. Panitia lelang sudah mengusulkan nama pemenang lelang, dan saya sudah tanda tangan," kata Paulinus Domi, Rabu, di Ende.

Sementara itu, Ketua Panitia Lelang WKP Panas Bumi Sokoria Kabupaten Ende Thom Benge mengatakan, peserta yang ditetapkan sebagai pemenang lelang wajib menyetorkan uang jaminan pelaksanaan kegiatan eksplorasi sebesar 10 juta dollar Amerika Serikat pada bank pemerintah setempat paling lambat 14 hari kerja.

"Apabila pemenang lelang tidak menyerahkan jaminan pelaksanaan kegiatan ekspolorasi, maka jaminan lelang sebesar Rp 100 juta menjadi milik Pemerintah Kabupaten Ende, dan peringkat kedua calon pemenang lelang (PT Encona Inti Industri) yang menjadi pemenang," kata Thom Benge.

Sekretaris Fraksi Gabungan (F-Gab) DPRD Kabupaten Ende Heribertus Gani menyatakan, dengan selesainya proses lelang itu, pihak pemerintah daerah dan rekanan harus secepatnya mewujudkan cita-cita besar masyarakat Kabupaten Ende untuk penerangan listrik di seluruh wilayah Ende lewat pembangkit dari panas bumi Sokoria itu.

SEM / Kompas.com